Rabu, 22 Januari 2014

Wanita laksana Bunga

"Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita
yang solehah." (HR Muslim)
Wanita ibarat bunga... cantik indahnya pada pandangan
mata hanya sementara... Yang kekal menjadi pujaan
manusia, hanyalah wanita yang mulia akhlaknya...
karena akhlaq wanita ibarat bunga diri.. Tiada guna
berwajah cantik tetapi akhlaq buruk.. tiada guna juga
berwajah cantik tetapi hati kosong dari ilmu...

Ibarat bunga.. ada yang cantik bila dipandang tetapi
busuk baunya... Ada pula yang kurang menarik dan
baunya juga kurang menyenangkan... Ada juga bunga yang
tidak menarik pada pandangan mata kasar.. tetapi bila
dihalusi dengan mata hati, ternyata amat tinggi
nilainya....

Wanita adalah makhluk Allah yang amat istimewa.
Kemuliaan dan keruntuhan sesuatu bangsa terletak di
tangan wanita. Oleh yang demikian, Allah telah
menetapkan hukumnya ke atas mereka; walaupun berat di
pandangan mata si jahil dan ingkar tetapi ia adalah
kemanisan iman yang dicicip oleh wanita solehah.

Karena itulah... Sebagai anak, dia menjadi anak yang
solehah... Sebagai remaja dia akan menjadi remaja yang
bersemangat.. sebagai isteri, dia menjadi isteri yang
menyenangkan dan menenangkan hati suaminya.. sebagai
ibu, dia akan mendidik anaknya dengan penuh kasih
sayang... dan pastinya sebagai hamba Allah, dia akan
menjadi hamba yang tunduk dan menyerah diri hanya
kepada-Nya.

Allah swt berfirman dalam surah an-Nisa' ayat 24 yang
artinya,
"Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang soleh baik
lelaki mahupun wanita sedang ia seorang yang beriman
maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak
dianiaya walau sedikitpun."

Dalam Islam wanita amat dihormati dan dihargai
peranannya. Sebagaimana eratnya hubungan siang dan
malam yang saling melengkapi, begitu juga lelaki dan
wanita diciptakan untuk saling melengkapi. Setiap
lelaki dan wanita memiliki tugas dan kewajiban yang
berlainan, sesuai dengan fitrah masing-masing. Namun,
tujuan hidup setiap lelaki dan wanita adalah sama,
iaitu mencari redha Allah (Mardhatillah). Allah telah
berfirman,

"Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang soleh baik
lelaki mahupun wanita sedang ia seorang yang beriman
maka mereka itu masuk ke dalam syurga dan mereka tidak
dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisaa : 124)

Rasulullah juga turut memerintahkan umatnya supaya
memperlakukan wanita sebaik-baiknya sebagaimana
sabdanya: "Mereka yang paling sempurna di kalangan
mereka yang ikhlas adalah mereka yang mempunyai akhlak
yang terbaik dan yang terbaik dikalangan kamu adalah
yang paling baik terhadap isterinya." (HR At-Tirmidzi)


Rasulullah saw telah memerintahkan supaya kaum wanita
diperlakukan menurut fitrah ia dijadikan sebagaimana
dalam sabdanya: "Berlaku baiklah terhadap kaum wanita
lantaran mereka diciptakan dari tulang rusuk yang
bengkok adalah bahagian yang teratas, jika kamu cuba
untuk meluruskannya kamu akan mematahkannya dan jika
kamu membiarkannya ia akan tetap bengkok, maka berlaku
baiklah terhadap kaum wanita kamu." Al-Bukhary dan
Muslim

Nilai wanita dalam Islam amat bertentangan dengan apa
yang diperjuangkan oleh wanita Barat. Nilai wanita
bukan terletak pada fesyen pakaiannya yang menonjol,
berhias diri untuk memperlihatkan kecantikannya,
tetapi hakikatnya ialah pada kesopanan, rasa malu dan
keterbatasan dalam pergaulan.

Tak Perlu Mengubah Dunia

                  Seorang Maharaja akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana kakinya terluka karena terantuk batu. Ia berpikir, "Ternyata jalan-jalan di negeriku ini jelek sekali. "Aku harus memperbaikinya."
                  Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Ia memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit sapi yang terbaik. Segera saja para menteri istana melakukan persiapan-persiapan. Mereka mengumpulkan sapi-sapi dari seluruh negeri. 
Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang pertapa menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, "Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi telapak kaki Paduka saja." Konon sejak itulah dunia menemukan kulit pelapis telapak kaki yang kita sebut "Sandal".
                     Seringkali kita berharap dapat mengubah seluruh dunia beserta isinya,namun sesungguhnya yang diperlukan hanyalah mengubah diri kita sendiri.

Belajar dari Sang KODOK

                Sekelompok kodok sedang berjalan jalan melintasi hutan, dan dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Semua kodok kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar - komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.
Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. 
                Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tsb berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil. 
Ketika dia sampai diatas, ada kodok yang bertanya "Apa kau tidak mendengar teriakan kami ?". Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli. Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kpd kodok tsb.

Pelajaran:
1. Kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" justru dapat membuat orang tsb bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. 
2. Kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan. Suarakan 'Kata-kata kehidupan' kpd mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa ' Kata-kata kehidupan' itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.
Semua orang dapat mengeluarkan 'Kata-kata Kehidupan' untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya, kemalangannya. 
Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan
spirit bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh.

Masalah Jangan dibawa ke Rumah

                Seorang pemrogram komputer yang saya pesan untuk memperbaiki PC di rumah datang terlambat. Katanya, di tengah jalan ban mobilnya kempes. Ketika sedang memperbaiki komputer, bor listriknya macet tak mau berfungsi. Akibat berbagai masalah tadi, ia kehilangan waktu kerjanya hampir dua jam. Rupanya penderitaannya tak hanya berhenti di sini. Persis saat mau pulang, mendadak mesin mobilnya ogah distart dan mogok. 
               Agar tidak kemalaman, saya mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan ia tampak termenung sedih atas kesialan yang bertubi-tubi menimpanya hari itu. Sesampainya di depan rumahnya, tiba-tiba ia berhenti sebentar di depan sebuah pohon kecil yang tumbuh di halaman depan. Ia menyentuh ujung-ujung cabang pohon itu dengan kedua tangannya. Setelah itu, raut mukanya menampakkan perubahan besar. Begitu pintu rumah terbuka, wajah yang semula lesu kusam itu mendadak penuh senyuman. Dengan riang dan hangat ia memeluk kedua anaknya serta mencium sang istri yang menyambutnya. 
               Karena penasaran, sebelum berpamitan saya bertanya apa yang dia lakukan dengan pohon tersebut?
"Oh, itu adalah pohon masalah saya," jawabnya. Menyadari lawan bicaranya kebingungan, pria ini melanjutkan bicara. "Saya sadar, ada banyak persoalan muncul dalam pekerjaan. Namun, yang pasti segala permasalahan itu bukan milik orang rumah, baik anak maupun istri saya. Itulah sebabnya, sore hari setiap pulang dari kantor, sebelum masuk rumah saya selalu menaruh semua masalah atau problem pekerjaan di pohon ini. Keesokan harinya, saya ambil untuk di bawa ke kantor lagi."
               "Anehnya", lanjutnya sambil tersenyum, "di pagi hari ketika saya ambil lagi
maslaah-masalah tersebut dari pohon, rasanya tidak lagi seberat ketika saya
taruh kemarin sore."

Negeri Tetangga (Kuala Lumpur-Malaysia)

Menghirup udara segar
DEPAN PETRONAS
di Negara lain itu adalah hal yang amat berharga untuk menikmati perkembangan zaman, tapi jangan pernah lupa bahwa apa yang selama ini kita lihat,,,mulai dari ilmu manusia yang mampu mendesain serta membangun hal yang kita anggap luar biasa...
jangan lupa Allah yang memberikan ilmu kepada seluruh manusia,,itulah sebabnya, kenapa kita harus keluar mencari pengalaman, agar cakrawala pemikiran kita tetap bertambah, dan mengingat sang Pencipta yang memberikan kesempatan kepada seluruh manusia........
ilmu manusia itu ibarat setetes tinta dari ilmu Allah,,,
janganlah kita pernah merasa arogan dari ilmu yang kita miliki....karena hal itu akan membuat diri hina dimata ALLAH.....

INSIDE MUZIUM OF KL



MASJID SYAH ALAM KUALA LUMPUR-MALAYSIA

MUZIUM NEGARA KUALALUMPUR-MALAYSIA


INSIDE PETRONAS (TWIN TOWER) KUALA LUMPUR



saat Kematian Tiba

Saat Kematian Pedoman utk Semua
Tanda-Tanda Saat Kematian
a) 100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.
b) 60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.
c) 40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh
   dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu
   mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang
   akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut
tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.
d) 7 hari : Mengidam makanan.
e) 5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.
f) 3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
g) 2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
h) 1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh
   and asar.
i) Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang
   solbi (di bahagian belakang badan) Seelok-eloknya bila sudah merasa
    tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan    lagi
bercakap-cakap.

******Bila Malaikat Mencabut Nyawa******
Baginda Rasullullah S.A.W bersabda:
"Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu
kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan   kemudian
mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya   sehingga sampai
kelutut.
Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik
roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar.
Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya
dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan
akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh
dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan  saat
nazak orang itu."

Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:

"Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail
A.S.akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang
nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang
beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang   berada
disekelilinginya.
Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus
pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."
Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan
menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat    melihat
kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak   lagi melihat
orang disekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu   takutnya apabila
melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.
Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang
mukmin itu dicabut nawanya maka datanglah malaikat maut.
Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah
mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan  berkata:
"Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini
  kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah
S.W.T."
Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali
kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang
mukmin itu. Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:
"Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain."Sebaik saja
malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun   cuba
mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah     sedekah dari
arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala   anak-anak yatim dan
keluar penulisan ilmu.
Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang
mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan   ini
mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu  pengetahuan."

Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari
arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat
maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata: "Tidak ada jalan bagimu dari
arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat
dengan  berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."

Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki,
maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut
menghampiri telinga maka telinga pun berkata:"Tidak ada jalan bagimu  dari
arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir."

Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata
tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata:"Tidak ada
jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf
dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan
Allah."

Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah
S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak
tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu.

"Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut
menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T. Sebaik saja
melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh
tersebut dari  arah  mulut dengan tenang.

Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia
keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A:"Roh itu menuju ketujuh
tempat:-
1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut
   kehendak mereka.
5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi
   dan tidak di langit sampai hari kiamat.
6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak
   misik.
7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka
   diseksa berserta jasadnya hingga sampai hari Kiamat."

Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan
dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-

i. Orang-orang yang mati syahid. 
ii. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.  iii.
Orang berpuasa di hari Arafah.

Sekian untuk ingatan kita bersama.

Kesejahteraan

Kesejahteraan Hidup Boleh Dicari Asalkan...
Seorang arif melihat setan dalam keadaan
telanjang di tengah-tengah
masyarakat.
"Hai makhluk yang tak punya malu, mengapa kamu
telanjang di hadapan
manusia?" tegur sang arif.
"Mereka bukan manusia, mereka kera.
"
Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`,
Dzahaban naas wa baqiyan
nasnaas (Telah pergi manusia, yang
tertinggal hanya kera)
"Jika kamu ingin melihat
manusia, ikutlah aku ke pasar," lanjut sang
setan.

Orang arif itu lalu pergi bersama
setan ke pasar. Sesampainya di
pasar, setan itu menjelma seorang laki-laki dan langsung
menuju ke
toko yang paling besar. Toko itu hanya menjual permata yang
berkualitas tinggi
dengan harga yang amat mahal.

"Coba lihat permata itu," kata setan kepada pemilik toko
sambil
menunjuk permata yang paling besar.
Pemilik toko mengambil permata itu lalu
menyerahkannya kepada setan.
Ketika permata berpindah ke tangan setan, pemilik toko
mendengar
muadzin menyerukan: hayya `alash sholaah (Marilah salat)
Pemilik toko segera
mengambil kembali permatanya.
"Kamu pasti setan. Tak ada yang datang pada waktu seperti
ini kecuali
setan," kata pemilik toko.
Kemudian ia mengusir si setan. Setelah setan pergi,
 ia lalu
menghancurkan permata itu dengan batu.
"Permata ini tidak ada berkahnya,
" kata pemilik toko. Kemudian ia
keluar untuk salat.

Allah berfirman:
"Laki-laki
yang perniagaan dan jual beli tidak dapat melalaikannya
dari mengingat Allah.
" (QS An-Nur, 24:37) 
Dalam surat Al-Muzzammil, Allah menyejajarkan para pedagang
dengan
orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
Dan orang-orang yang berjalan di
bumi mencari sebagian karunia Allah,
dan orang-orang lain yang berperang di jalan Allah.
 (QS Al-Muzzammil,
73:20) 

Perdagangan untuk mencari kesejahteraan di dunia tidaklah
tercela.
Sebaik-baik urusan dunia adalah yang dapat menjadi tunggangan menuju
akhirat.
Adapun yang tercela adalah jika kita selalu tenggelam dalam
urusan keduniaan, hati kita
selalu terikat pada dunia sehingga kita
melalaikan hak-hak dan perintah-perintah Allah.
Yang terpuji adalah
hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan. Hidup berlebih-lebihan

membuat seseorang terlambat masuk surga.

Seorang bermimpi melihat Malik bin Dinar
berlomba-lomba dengan
Muhammad bin Wasi' menuju surga. Ia menyaksikan bahwa
Muhammad bin
Wasi` akhirnya dapat mendahului Malik bin Dinar. Orang itu kemudian

bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena menurut perkiraannya
Malik bin Dinar
bakal menang. Kaum salihin menjawab bahwa ketika
meninggal dunia Muhammad bin Wasi'
hanya meninggalkan sepotong
pakaian, sedang Malik meninggalkan dua potong pakaian.


Jika seorang arif seperti Malik bin Dinar dapat tertinggal hanya
karena pakaian,
lalu bagaimana dengan kita. Lemari kita penuh dengan
pakaian, dan kita pun masih merasa
belum cukup. 

Ya Allah, jadikanlah kami puas 
dengan rezeki yang Engkau karuniakan. 

Berkahilah apa yang telah Engkau berikan. 
Dan jangan jadikan (bagi kami) dunia
 sebagai
puncak perhatian dan pengetahuan. (I:511)  


Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan
bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul
Asyraf, Kisah dan Hikmah



Kepompong Story

                    Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil  muncul. Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia  berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi. Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. 
                   Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya.Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap2 mengkerut.Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu. Semuanya tak pernah terjadi Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari keb aikan dan ketergesaan orang  tersebut adalah bahwa kepompong yg menghambat dan perjuangan yg dibutuhkan  kupu-kupu untukmelewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk  memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian  sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut  Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita.                     
                              Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak  pernah dapat terbang. Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untu  membuat saya kuat. Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan  Saya memohon Kemakmuran .... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.  Saya memohon Keteguhan hati ... Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk  diatasi. Saya memohon kebahagiaan dan cinta kasih...Dan Tuhan memberikan kesediha kesedihan untuk dilewati  Saya memohon Cinta .... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong. Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati.... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan. Saya tidak memperoleh yg saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya  butuhkan.

Keluh kesah

Al-jaza adalah ketidaksanggupan seseorang dalam memikul
bencana atau musibah yang menimpanya, kemudian menampakkan
sikapnya itu, baik dengan ucapan, perbuatan maupun keluh
kesah.

Sikap tidak sabar tatkala mendapat musibah ini akan
mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :
1. Ketidakmampuan dalam berpikir jernih karena hati tidak
   tenteram. Padahal ketidakjernihan pikiran akan melahirkan
   pilihan yang tidak jelas.
2. Munculnya bencana-bencana lain akibat kesalahan dalam
   mengambil tindakan.
3. Menyeret seseorang dalam kemusyrikan jika kondisi imannya
   tidak kuat.
4. Dikeluarkan dari hamba Allah. Rasulullah SAW bersabda,
   "Barang siapa tidak rida terhadap ketentuan-Ku dan tidak
    sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain-Ku."

Adapun penyebab penyakit jaza ini antara lain sebagai
berikut:
1. Mengikuti dorongan hawa nafsu.
2. Tidak mampu menahan rasa pedih atau emosi batin.
3. Kurang bersyukur terhadap nikmat yang begitu banyak
   dibandingkan bencana yang baru menimpa.
4. Kelemahan iman terhadap qadha dan qadar, sehingga tidak
   memahami hikmat di balik bencana.

Dalam menghadapi musibah, seorang mukmin hendaknya
menjalaninya dengan pola hidup sabar, yaitu menahan diri
dari keluh kesah, amarah apalagi dari harapan mendapat
belas-kasihan orang lain, terutama pada awal musibah itu
terjadi. Rasulullah SAW bersabda, "Sabar itu tatkala
menghadapi ujian musibah yang pertama." Karena, pada
saat-saat itulah, iman seseorang betul-betul diuji: apakah
dia akan kuat menahannya kemudian kembali kepada Allah dan
memendam emosinya dalam-dalam, atau membiarkan nafsunya liar
meluapkan rasa emosi dan gelisahnya.

Setelah lulus dengan ujian sabarnya, selanjutnya dia mesti
menelaah lebih jauh hakikat bencana yang menimpanya. Perlu
diketahui, jika suatu bencana menimpa seseorang atau suatu
kaum, ada tiga kemungkinan, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai ujian (ibtila) atas prestasi iman. Melalui ujian
   tersebut, seseorang akan mengalami kenaikan derajat atau
   pangkatnya. Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang
   paling besar mendapat ujiannya adalah para nabi, kemudian
   para syuhada, kemudian orang-orang yang setingkat dengannya."
   Orang-orang yang mendapat kualitas uji prestasi ini adalah
   mereka yang betul-betul mengenal Allah. Mereka merasakan
   ibtila ini sebagai suatu kenikmatan istimewa sehingga ia
   begitu rela dan tenang,
2. Sebagai sarana untuk mengukur kebenaran iman. Allah
   berfirman,
   "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja
   mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji
   (lagi)? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang
   sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-
   orang yang dusta." (Q.S. Al-Ankabut, 2-3).
3. Sebagai azab atas kemaksiatan dan kekufuran, agar menjadi
   jera. Allah berfirman,
   "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan
   oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
   mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
   kembali ke jalan yang benar." (Q.S. Ar-Rum, 41).

Dengan menelaah ketiga kemungkinan itu, seseorang harus
mampu membaca dengan mata batinnya: apa hakikat bencana yang
sedang dialaminya itu. Namun, yang jelas, baik yang kesatu,
kedua maupun ketiga, menuntut kesabaran yang sama, yaitu
dengan mengembalikan segalanya kepada keinginan Allah.

Berikut sepuluh keutamaan setiap mukmin berkaitan dengan
kesabaran yang mampu dijalankannya:
1. Kesabaran merupakan ibadah batiniah sehingga ia selalu
   disertai pertolongan Allah. Allah SWT berfirman,
   "Sesungguhnya Allah bersama-sama orang yang sabar."
   (Q.S. Al-Baqarah, 153).
2. Kesabaran memelihara amalnya dari hal-hal yang dapat
   merusak, karena nafsunya yang suka membawa ke jalan yang
   buruk dapat dia kendalikan.
3. Kesabaran menjadi modal bagi ketenangan hidupnya selama
   di dunia. Baginya, dunia adalah tempat tinggal sementara
   yang tidak akan luput dari godaan.
4. Kesabaran menjadi sarana untuk meningkatkan konditenya
   di hadapan Allah.
5. Kesabaran melahirkan pujian Allah bagi pemiliknya. Orang
   yang sabar dipuji Allah sebagai orang yang paling baik.
6. Kesabaran melahirkan kegembiraan baginya.
7. Kesabaran melahirkan kecintaan Allah terhadapnya.
8. Kesabaran meningkatkan derajatnya.
9. Kesabaran membawa keselamatan yang hakiki, yakni ketika
   ia masuk surga. Ia mendapatkan sambutan dari Allah,
   sebagaimana dalam firman-Nya:
   "Keselamatan atas kamu semua karena kesabaranmu"
   (Q.S. Ar-Ra'du, 24).
10. Kesabaran membawanya pada pahala yang tidak ada hentinya.
    Allah berfirman,
    "... Hanyalah pahala orang-orang sabar yang akan dibalas
    tanpa ada bilangan." (Q.S. Az-Zumar, 24).

Agar terbebas dari penyakit al-jaza ini, hendaknya kita
melakukan hal-hal berikut:
1. Menjauhi semua penyebab timbulnya penyakit al-jaza.
2. Mempelajari akibatnya.
3. Memahami makna sabar dan seluruh manfaatnya.
4. Melakukan langkah-langkah berikut jika dihadapkan pada
   suatu cobaan:
   a. Meyakini bahwa cobaan adalah takdir dari Allah yang
      terbaik baginya, dan kelak akan terbukti hikmahnya.
   b. Menahan emosi semaksimal mungkin sehingga tidak
      menimbulkan reaksi negatif terhadap tindakan fisik.
   c. Jika masih ada rasa kesal, segera beranjak dari tempat
      duduk, ambil air wudu, dan baca ta'udz dan istigfar sebanyak
      tiga kali.
   d. Membaca doa berikut:
      "Ya Allah, selamatkanlah aku dalam musibahku ini, dan semoga
      engkau menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripada
      ini."
   e. Selalu bersyukur akan nikmat yang diterima.

Gaji Kurang Keceriaan Hilang

Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun dan membeli rumah mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia menikmati masa-masa pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat itu sedang masa liburan sekolah. Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan, sekolah itu pun penuh dengan anak-anak. 

Suasana tenang dan nyaman menjadi sedikit berubah. Namun yang paling menjengkelkan pak Tua adalah, setiap hari ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang suka memukuli tong sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin keributan sepanjang hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi hebat.

Begitu terus dari hari ke hari. Sampai akhirnya pak Tua merasa harus melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak Tua keluar rumah sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak laki-laki yang sedang asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan permainan mereka, dan berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti suka bersenang-senang.

Saya suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang seperti ini. Sewaktu saya masih kecil, saya juga suka bermain-main seperti kalian. Nah, apakah kalian mau saya beri uang?" "Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak. "Okay, begini," pak Tua itu tersenyum. Lalu ia mengeluarkan tiga lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya, "Masing-masing dari kalian saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji mau bermain-main di sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari." Anak-anak itu senangnya luar biasa.

Sejak itu setiap hari mereka "bekerja" memukuli tong sampah itu dengan penuh semangat. Beberapa hari kemudian, pak Tua itu menghampiri dan menyambut "pekerjaan" mereka dengan penuh senyum. Namun kali ini senyumnya tampak agak sedih. Katanya, "Nak, kalian tahu kan situasi krisis akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari." Ia menarik nafas dalam-dalam.

Anak-anak itu menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut pak Tua. "Mulai hari ini saya hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk tugas kalian memukuli tong sampah ini." Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan pak Tua, namun mereka masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan tugas mereka membuat keributan sepanjang hari. Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah memelas mendekati anak-anak yang sedang memukuli tong sampah.
 Katanya, "Maaf, bulan ini saya belum menerima kiriman uang pensiun.  Saya hanya bisa memberi kalian bertiga seribu Rupiah saja."
 "Apa..? Seribu untuk bertiga?,
" protes pemimpin pemain tong sampah itu. " Apa pak Tua kira kami ini mau menghabiskan waktu kami di sini hanya untuk uang segitu ? Ah, yang benar saja! Pak Tua ini tidak masuk akal.

Mulai hari ini kami tidak mau lagi melakukan tugas ini lagi. Kami keluar." Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua itu dengan bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua menikmati ketenangan hingga akhir hayatnya.

Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan hati dengan "uang gaji". Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya karena kita menganggap "keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan yang dibayar, maka bila "bayarannya" berkurang maka kesenangan pun jadi berkurang. Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik beberapa lembar uang gajian belaka.

Selasa, 21 Januari 2014

Jangan lihat harga sapu LIDI

Tahukah anda mengapa sebatang sapu lidi begitu murah harganya? Begitu murahnya sampai-sampai ia jauh lebih murah daripada seteguk air penghilang dahaga. Padahal anda tahu, ia harus dipetik dari pepohonan kelapa yang ditanam di dusun-dusun jauh di pedalaman. Ia pun harus diserut, dihaluskan, diikat kuat agar mudah digunakan dan tak melukai tangan. Ia harus diangkut oleh banyak kendaraan, melewati banyak pasar, dan naik turun timbangan penawaran.

Karena, ia dipetik oleh tangan-tangan kecil yang tak menuntut banyak upah. Ia dijalin oleh wanita-wanita yang tak menghitung laba rugi. Ia juga dipikul oleh bahu-bahu legam pria yang tak terlalu mengerti transaksi jual beli.

Sebatang sapu lidi itu begitu murah sampai di tangan kita, karena orang-orang itu tak menghitung jerih perih kerjanya. Mereka pun tak mengkalkulasi butir-butir keringatnya. Maka, mari kita sadari bahwa di balik kemurahan dan kemudahan yang kita cerap sekarang ini, terselip cerita tentang pengorbanan yang jauh lebih berharga ketimbang harga seluruh sapu lidi yang bisa kita beli.

Kado buat Sang Ayah.....???

Menjelang hari raya, seorang ayah membeli beberapa gulung kertas kado. Putrinya yang masih kecil, masih balita, meminta satu gulung. 
"Untuk apa ?" tanya sang ayah.
 "Untuk kado, mau kasih hadiah." jawab si kecil. 
"Jangan dibuang-buang ya." pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.
                  Persis pada hari raya, pagi-pagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, "Pa, Pa ada hadiah untuk Papa." Sang ayah yang masih malas-malasan, matanya pun belum melek, menjawab, "Sudahlah nanti saja." 
                 Tetapi si kecil pantang menyerah, "Pa, Pa, bangun Pa, sudah siang." "Ah, kamu gimana sih, pagi-pagi sudah bangunin Papa."
                 Ia mengenali kertas kado yang pernah ia berikan kepada anaknya.
 "Hadiah apa nih?" 
"Hadiah hari raya untuk Papa. Buka dong Pa, buka sekarang."
               Dan sang ayah pun membuka bingkisan itu. Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.
 "Ah, kamu bisa saja. Bingkisannya koq kosong. Buang-buang kertas kado Papa. Kan mahal ?" Si kecil menjawab, "Nggak Pa, nggak kosong. Tadi, Putri masukin begitu buaanyaak ciuman untuk Papa."
              Sang ayah terharu, ia mengangkat anaknya. Dipeluknya, diciumnya. 
"Putri, Papa belum pernah menerima hadiah seindah ini. Papa akan selalu menyimpan boks ini.  Papa akan bawa ke kantor dan sekali-sekali kalau perlu ciuman Putri, Papa akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya !" 
~~~
Perspektif
         Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi ? Lalu, kendati kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata sang ayah, di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. 
       Orang lain akan tetap menganggapnya kotak kosong. Kosong bagi seseorang bisa dianggap penuh oleh orang lain. Sebaliknya, penuh bagi seseorang bisa dianggap kosong oleh orang lain.
Kosong dan penuh - dua-duanya merupakan produk dari "pikiran" anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. 
           Hidup menjadi berarti, bermakna, karena anda memberikan arti kepadanya, memberikan makna kepadanya.
Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan arti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong...........

Belajar dari Kunci kesuksesan

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk meraih sukses dalam hidup. Tapi tidak semua orang bisa meraih sukses yang sama meski dalam hal yang relatif sama. Satu orang bisa meraih sukses dalam waktu yang cepat, satu lagi harus memerlukan waktu yang lama, bahkan sukses yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Bagaimana cara berpikir mereka yang sukses? 
Apa yang memotivasi mereka?
 Berikut tujuh kunci sukses dari beberapa ahli tentang bagaimana memotivasi diri.
* Bertanggung jawab penuh
Di dalam masyarakat lazim orang menyalahkan siapa saja mulai dari pemerintah sampai orangtua atas kegagalannya. Tapi tidak demikian dengan orang yang sukses. Prinsip mereka "segala sesuatu tergantung pada diri sendiri".
Pertimbangkan apa yang dialami Les Brown berikut. Dibuang orangtuanya saat lahir dan dianggap sebagai anak terbelakang, ia memiliki segala alasan untuk kehilangan harapan. Tetapi ketika gurunya di sekolah menengah mengatakan bahwa opini orang lain bukanlah realita dirinya, Brown sadar kalau masa depannya tergantung di tangannya. Berpegang pada pikiran tersebut, Brown sekarang bisa meraih sukses.
Anda memang tidak bisa mengontrol sesuatu yang bersifat natural dalam hidup ini, masa lalu, dan orang lain. Tetapi Anda bisa mengontrol pikiran dan tindakan Anda. Bertanggung jawab atas hidup Anda adalah salah satu wewenang utama yang bisa Anda lakukan.
* Jalani hidup dengan memiliki tujuan
Mungkin yang membedakan orang yang sukses dengan orang lain adalah cara mereka menjalani hidup dengan tujuan yang pasti.
Mereka melakukan apa yang mereka anggap memang harus dilakukan. "Memiliki tujuan hidup adalah elemen penting supaya bisa menjadi orang yang berguna," ujar Wayne Dyer, pengarang Your Erroneous Zones.
Menjalani hidup tanpa tujuan, berarti melakukan usaha secukupnya untuk menghindari masalah. Ketika Anda menjalani hidup dengan tujuan yang pasti, perhatian utama Anda adalah melakukan pekerjaan dengan benar. Orang lain pun ingin bekerja sama dengan Anda karena Anda mampu menunjukkan komitmen yang tinggi.
* Susunlah rencana
Mencoba meraih tujuan tanpa rencana ibarat berkendara di jalan yang asing menuju kota yang jauh. Waktu, energi dan uang yang terbuang sia-sia bisa menjadi penyebab mudah menyerah. Tetapi jika kita ingin meraih sukses, kita harus memiliki rencana yang pasti untuk meraih sukses tersebut. Cita-cita yang tidak terencana bukanlah cita-cita. Itu hanyalah fantasi. Dengan rencana di tangan, Anda akan menikmati perjalanan menuju sukses tanpa membuang waktu.
* Mau berkorban
Ingin memiliki rumah besar, mobil mewah atau uang yang banyak adalah hal yang wajar. Masalahnya, setiap orang menginginkan hal tersebut. Orang-orang yang sukses mengetahui apa yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan impiannya dan benar-benar melakukannya. Mereka tidak mengeluh atas apa yang mereka lakukan dan mau menghadapi rintangan yang menghadang mereka.
* Menjadi seorang profesional 
Mereka yang telah berhasil meraih sukses selalu termotivasi untuk melatih kemampuan yang mereka miliki. Jika sesorang mendokumentasikan Anda ketika sedang berkerja dalam sebuah video untuk digunakan sebagai contoh bagi orang lain, apa yang Anda rasakan. Malu atau bangga? Jika Anda merasa malu, mulai sekarang putuskan untuk melakukan yang terbaik dalam bidang Anda. 
 * Jangan pernah menyerah 
Di tengah perjalanan meraih suatu cita-cita, menyerah bukanlah suatu pilihan. Anda harus melakukan apa pun sebisa Anda, asalkan halal dan legal, untuk meraih cita-cita. Ketika Jack Canfield dan Mark Victor Hansen menyusun buku Chicken Soup For The Soul, mereka berkali-kali ditolak oleh ratusan penerbit. Tetapi mereka pantang menyerah. Akhirnya, sebuah penerbit kecil memutuskan untuk menerbitkan buku mereka. Sekarang, buku tersebut menjadi best seller dan laku jutaan kopi dengan berbagai macam seri. 
Manfaatkan waktu yang Anda miliki untuk mencapai impian. Dan selalu tanyakan pada diri sendiri apakah yang Anda lakukan sekarang hampir mencapai tujuan. Jika tidak, lakukan hal lain yang bisa membawa Anda lebih dekat dalam meraih sukses. 
 * Jangan menunda sesuatu 
Ingatlah selalu kalau kita tidak memiliki waktu selamanya. Jika sesuatu bisa dilakukan sekarang, lakukanlah dan jangan ditunda-tunda lagi. Manfaatkanlah waktu yang Anda miliki untuk meraih cita-cita. Jika orang lain bisa, kenapa Anda tidak.

Tour adalah Pengalaman

SUDAH MENJADI WUJUD NYATA DALAM HIDUPKU
Keinginan yang selama ini tertunda, karena persoalan keterlambatanku dari PAPUA Ramadhan yang lalu.
membuatku berfikir yang tidak-tidak, pada ahirnya, kesabaranlah yang menekan jiwa untuk tetap bersabar, dan aku menganggap bahwa aku akan kehilangan kesempatan,,,
tapi berangkat dari keinginan yang bulat membuatku tetap mengimpikan kota ini, meskipun kota Singapura adalah salah satu dafar Negara yang membuatku penasaran dan ingin rasanya memanjakan mata ini......

SUNGGUH PENGALAMAN ITU MAHAL

CAKRAWALA PEMIKIRAN AKAN TERBUKA LEWAT PENGALAMAN






Senin, 20 Januari 2014

Meraih Cinta ILAHI

 
     Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup.
     Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia.
     Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru.
     Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara
     yang menemaniku ke tempat mempelai wanita.
    
     Apalagi ibu, Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.
     Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari,
     "Jadi juga kau nikah sama 'buntelan karung hitam' itu ....?!?"
     Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu.
     Masa calon istriku disebut 'buntelan karung hitam'.
     "Kamu sudah kena pelet barangkali Yanto.
     Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali
     tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding
     kamu !!" sambung ibu lagi.
    
     "Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu.
     Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?"
     Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi.
     Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.
    
     "Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu.
     baiklah Yanto. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan
     dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu.
     Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!"
    
     DEGG !!!!
    
     "Yanto.... jangan bengong terus.
     Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku.
     Segera kuucapkan istighfar dalam hati.
    
     "Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah  ...akhi,"
     sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.
     "Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan
     mas kawin seperangkat alat sholat tunai !" Alhamdulillah lancar juga
     aku mengucapkan aqad nikah.
    
     "Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah
     dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."
     Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama.
     Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam.
     Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah
     dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.
    
     "Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di cek kapan
     De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi
     disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah
     meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan
     Qur'an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.
    
     "Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya.
     Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam.
     Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri
     isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia
     menyerah. Kini aku tertegun lama.
    
     Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku 'tidak menarik'.
     Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya.
     Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.
     "Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya
     seperti ini.
    
     Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak
     menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan
     yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan
     kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia
     sukai pada istrinya.
    
     Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang  dibacakan ibunya
     Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka," ...
     Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian
     bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin
     kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya
     kebaikan yang banyak."
     (QS An-Nisa:19)
    
     Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata
     itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang
     wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam
     Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah. "Ya
     Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih
     sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan
     menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."
    
     Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam
     dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih
     menyisakan segumpal ragu.
    
     "Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh...
     saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.
     "Tidak...De'.
    
     Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah.
     Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika
     seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil
     menggenggam erat tangannya.
    
     Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait
     do'a kubentangkan pada Nya.
     "Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat
     mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri
     karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu.
    
     Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya
     akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu
     dalam Jannah-Mu !"
    
     Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap
     raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah,  .. sekarang
     aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita
     sholihah sejati.
    
     Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang
     pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa
     melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya. "...dan diantara manusia ada 
     orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka 
     mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang
     yang beriman amat sangat cintanya pada Allah ..." (QS. al-Baqarah

Rasulullaah & Pengemis Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi
hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku
jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu
tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Namun setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan
tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang
dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar
tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya
hingga menjelang Rasulullah SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak
ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi
buta itu.

Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau
bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku (Muhammad) yang
belum aku kerjakan?".
Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai Ayah, engkau adalah seorang
ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali

satu sunnah saja".
"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.
"Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke hujung pasar dengan membawakan
makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk
diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan
memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya,
si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu?".
Abu Bakar r.a menjawab, "Aku orang yang biasa". "Bukan!, engkau bukan orang
yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu, "Apabila ia datang
kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini
mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku dengan
lembut", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata
kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku
adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah SAW."

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun ikut menangis,
kemudian berkata, "Benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya,
memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan
membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia..."
Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Agama & Ilmu


( Tulisan ini diambil dari tiga tulisan yang membahas tema "agama dan Ilmu" yang pertama ditulis New York Times Magazine 9 November 1930; yang kedua disampaikan pada princeton Theological Seminary, 19 Mei 1939; dan yang ketiga dimuat pada Science, Philosophi, and Religion: Sympisium yang diterbitkan pada 1941 oleh Comference on Scince, Philosophi, and Religion in Their Relation to The Democratic Way of Life Disini Sengaja diambil satu tulisan lengkap dan sebagian dari dua tulisan lainnya agar gagsan Einstain terungkap secara utuh, tetapi tidak ditumpang tindih diterjemahkan oleh Zainal Abidin dari Sonja Bargman (ed), Ideas and Opinions by Albert Einstein, Bonanza)

Selama abad yang lalu, dan sebagian abad sebelumnya, tersebar luas pandangan bahwa ada pertentangan yang tidak dapat didamaikan antara ilmu dan agama. Pandangan yang dianut oleh tokoh zaman itu adalah bahwa sudah saatnya iman digantikan oleh pengetahuan. Iman yang tidak bersandar pada pengetahuan adalah takhayul, dan karenanya harus ditolak. Menurut konsepsi ini, fungsi saru-satunya pendidikan adalah untuk membuka jalan kepada pemikiran dan manusia, haruslah memenuhi hanya tujuan itu saja.
Memang amat sulit kita temukan –kalaupun ada– sudut pandang rasionalistik yang diungkapkan dalam bentuk sekonyol itu; karena setiap orang yang dapat dengna mudah melihat betapa sepihaknya pernyataan itu. Tetapi kita perlu menyatakan suatu tesis secara tajam dan telanjang sama sekali, jika ingin mengetahui hakikat sejatinya.
Adalah benar bahwa keyakinan hanya dapar didukung dengan baik oleh pangalaman dan pikiran jernih. Pada titik ini, kita mesti bersepakat sepenuhnya dengan kaum rasionalis ekstrim. Bagaimanapun, titik lemah ini adalah bahwa keyakinan tersebut –yang amat penting dan menentukan perilakku dan penilaian kita–tak dapat ditemukan hanya pada wilayah ilmu yang ketat ini.
Ini disebabkan metode ilmiah tidak dapat mengajarkan apa pun tentang bagaimana fakta-fakra berhubungan, dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Pengahargaan kepada pengetahuan objektif harus diberikan kepada orang-orang dengan kemampuan tertinggi yang mengembangkannya, dan saya harap Anda tidak menuduh saya ingin mengecilkan pencapaian-pencapaian dan usaha-usaha heroik dari orang-orang yang bergiat di bidang ini. Namun, sama jelasnua adalah bahwa pengetahuan tentang apa yang sebenarnya tidaklah langsung membukakan pintu bagi apa yang seharusnya. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang paling lengkap dasn paling jelas tentang apa sebenarnya, tetapi tidak mampu meyimpulkan darinya suatu tujuan dari aspirasi kemanusiaan kita. Pengetahuan objektif melengkapi kita dengan alat ampuh untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, tetapi tujuan puncak itu sendiri dan rasa rintu untuk mencapainya harus datang dari sumber lain. Dan hampir tidak perlu memperdebatkan pandangan bahwa kemaujudan dan aktivitas kita memperoleh makna hanya dengan penetapan tujuan seperti itu dan nilai-nilai yang berhubungan dengannya. Pengetahuan tentang kebenaran seperti apa adanya adalah menakjubkan, tetapi hanya sedikit perannya sebagai pembimbing, karena bahkan pengetahuan itu sendiri tak dapat mebuktikan konsepsi yang murni rasional dari kemajuan kita.
Tetapi kita juga tidak dapat mengasumsikan bahwa pemikiran akal tidak dapat berperan sama sekali dalam pembentukan tujuan dan penilaian etis . Ketika seseorang menyadari bahwa untuk mencapai suatu tujuan diperlukan suatu cara, di situ cara itu sendiri sudah menjadi tujuan. Meskipun demikian, berpikir semata tidak dapat suatu kepekaan atau rasa akan tujuan akhir. Bagi saya, inilah tampaknya peranan terpentung yang harus dimainkan oleh agama dalam kehidupan sosial manusia. Yaitu, untuk memperjelas tujuan dan penilaian fundamental ini, dan untuk menancapkannya dalam kehidupan emosional manusia. Dan jika ada yang bertanya, dari otoritas mena kita mesti mendapatkan tujuan fundamental ini –karena tujuan itu tidak dapat dinyatakan dan dijastifikasi hanya oleh nalar–maka jawabannya adalah: tujuan tesebutmajud dalam masyarakat yang seharusnya sebagai tradisi yang kuat, yang mempengaruhi perilaku, harapan-harapan, dan penilaian anggotanya; tujuan iru ada disana, yaitu, sesuatu yang hidup, tanpa merasa perlu menemukan jastifikasi bagi keberadaannya. Tujuan-tujuan itu meujud tanpa melalui pembuktian atau demonstrasi, tetapi melalui semacam pewahyuan, dengan perantaraan pribadi-pribadi tangguh. Tak perlu menjastifikasinya, tetapi yang penting adalah merasakan hakikatnya, secara sederhana dan jernih.
Kini, meskipun wilayah agama dan ilmu masing-masing sudah saling membatasi dengan jelas, bagaimanapun ada hubungan dan ketergantungan timbal balik yang amat kuat di antara keduanya. Meskipun agama adalah yang menentukan tujuan, tetapi dia telah belajar dalam arti yang paling luas, dari ilmu, tentang cara-cara apa yang akan menyumbang pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya. Dan ilmuhanya dapat diciptakan oleh mereka yang telah teri-lhami oleh aspirasi terhadap kebenaran dan pemahaman. Sumber perasaan ini, tumbuh dari wilayah agama. Termasuk juga disisni adalah kepercayaan akan kemungkinan bahwa pengaturan yang absah bagi dunia kemaujudan ini bersifat rasional, yaitu dapat dipahami nalar. Saya tak dapat percaya ada ilmuwan yang tidak memiliki kepercayaan tersebut. Keadaan ini dapat diungkapkan dengan suatu citra ; ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta.
Meskipun saya sudah menyatakan di atas bahwa sesungguhnya tak boleh ada pertentangan antara ilmu dan agama, saya mesti menekankan sekali lagi peryataan itu pada titik yang esensial, dengan mengacu kepada kandunagn aktual agama-agama dalam sejarah. Pembahasan ini berhubungan dengan konsep Tuhan.

Perasaaan Religius-Kosmik.
Semua yang dilakukan dan dipikirkan manusia adalah berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang amat dirasakannyadan usaha menghindari perasaan tidak enak. Ini harus tetap diingat jika kita akan memahami gerakan-gerakan spritual dan perkembangannya.Perasaan dan keinginan adalah kekuatan pendorong segala upaya dan kreasi manusia, betapapun tersamarnya ia menampakkan diri kepadakita. Kini, perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan apakah yang telah membawa manusia kepada pemikiran dan keyakinan religius dalam artinya yang paling luas? Pengamatan sepintas saja sudah cukup menunjukkan kepada kita bahwa pemikiran dan pengalaman religius dilahirkan oleh perasaan-perasaan yang amat beragam. Bagi orang primitif, rasa takutlah, diatas segalanya, yang menimbulkan gagasan religius-takut lapar, binatang buas, sakit, dan mati. Karena pada tingkat kemaujudan ini pemahaman akan berhubungan sebab-akibat biasanya tak cukup berkembang, maka akal manusia menciptakan wujud-wujud khayali yang sedikit banyak berfungsi sebagai bagian bagian dari hubungan sebab-akibat : peristiwa-peristiwa menakutkan terjadi sebagai akibat kehendak dan perbuatan wujud-wujud khayali tersebut. Dengan demikian, seseorang berusaha memenuhi keinginan wujud-wujud itu denagan menyajikan kuraban-kurban dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang- menurut tradisi yang diteruskan secara turun temurun ke tiap generasi-bertujuan mendamaikan wujud-wujud itu atau membuat mereka bersikap baik kepada manusia. Di sini saya sedang berbicara tentang agama-takut. Agama ini adalah suatu tahap penting yang, meskipun tak diciptakan, diteguhkan oleh pembentukan suatu kelompok kependetaan istimewa yang meletakkan dirinya sebagai perantara antara manusia denag wujud-wujud yang mereka takuti itu, dan kasta ini membangun kekuasaan diatas dasar ini. Seringkali seorang pemimpin, penguasa, atau suatu golongan privilese, yang mendapatkan posisisnya karena faktor-faktor lain, mengkombinasikannya dengan fungsi kependetaan agar otoritas sekularnya itu dapat lebih aman terjamin. Atau, para penguasa politik dan kelompok kependetaan bekerja sama demi kepengtingan masing-masing.
Desakan-desakan sosial adalah sumber lain dari terbentuknya suatu agama. Bapak, ibu, danpara pemimpin masyarakat makhluk-makhluk yang fana dan dapat berbuat salah. Kebutuhan mereka akan perlindungan, kasih sayang dan dukungan mendorong manusia untuk membuat konsepsi sosial, atau moral tentang Tuhan. Inilah Tuhan sang Pemelihara yang melindungi, memberi kepastian, memberi ganjaran, dan menghukum ; Tuhan yang- sesuai denag batas pandangan orang yang percaya- mencintai dan memuliakan kehidupan suatu suku atau kehidupan umat manusia, atau bahkan kehidupan itu sendiri ; Tuhan yang menjadi penghibur dalam penderitaan dan dalam keinginan yang tak terpuasi ; dialah yang memelihara jiwa-jiwa orang yang telah mati. Inilah konsepsi sosial atau moral tentang Tuhan. Kitab suci agama Yahudi dengan menarik meggambarkan perkembangan dari agama-takut ke agama-moral ini – sebuah perkembangan yang berlanjut dalam Perjanjian Baru. Agama bangsa-bangsa beradab, khususnya bangsa-bangsa Timur, pada pokoknya adalah agama moral. Perkembangan dari agama-takut ke agama-moral adalah satu langkah besar dalam kehidupan umat manusia. Namun, kita tetap harus mewaspadai prasangka bahwa agama primitif didasarkan sepenuhnya pada rasa takut, dan agama bangsa beradab sepenuhnya pada moralitas. Yang benar adalah bahwa semua agama merupakan campuran yang beragam dari kedua tipe tersebut, dengan satu perbedaan: pada tingkat kehidupan sosial yang lebih tinggi, agama moralitas lebih menonjol.
Satu hal yang ada pada semua tipe ini adalah watak antropomorfis dalam konsepsi tentang Tuhan. Pada umumnya, hanyalah orang-orang yang mempunyai bakat istimewa dan yang cerdas, yang merupakan perkecualian, yang dapat naik sampai ke suatu tingkat jauh di atas tingkat ini. Tetapi, ada tingkat ketiga dari pengalaman religius yang ada pada semua tipe tersebut, meskipun jarang ditemukan dalam bentuknya yang murni: saya menyebutnya dengan "perasaan religius-kosmik". Sangatlah sulit menjelaskan perasaan ini kepada orang yang sama sekali tak memilikinya, khususnya karena tidak ada konsepsi antropomorfis tentang Tuhan yang berhubungan dengan perasaan itu.
Orang itu merasakan betapa sia-sianya keinginan dan tujuan manusia, dan merasakan kelembutan dan ketertiban yang menakjubkan yang mengungkapkan dirinya dalam alam dan dunia pemikiran. Kemaujudan Individual hanya terkesan sebagai semacam penjara dan ia mengalami alam semesta sebagai suatu keseluruhan tunggal yang bermakna. Awal perasaan religius-kosmik sudah muncul pada tingkat awal perkembangan, sebagai contoh, dalam banyak Kitab Zabur Nabi Dawud dan pada beberapa Nabi. Agama Budha seperti yang kita pelajari, terutama dari tulisan-tulisan Schopenhauer, berisi unsur yang lebih kuat dari perasaan tersebut.
Para jenius religius dari segala zaman dibedakan oleh perasaan religius semacam ini, yang tidak mengenal dogma dan konsepsi Tuhan dalam bentukan citra manusia; maka tak akan ada gereja yang ajaran-ajaran utamanya didasarkan pada hal tersebut. Karenanya, kita menemukan orang-orang yang penuh dengan perasaan religius tertinggi ini hanya diantara para heretik (yang dianggap melakukan bid’ah-bid’ah) di setiap zaman; dan dalam banyak hal mereka dipandang oleh orang-orang sezamannya sebagai orang ateis, kadang-kadang juga sebagai santo (wali). Dari sudut pandang ini, orang-orang seperti Demokritos, Francis Assisi, dan Spinoza, sangat mirip satu dengan lainnya.
Bagaimana mungkin perasaan religius-kosmik dikomunikasikan kepada orang lain, kalau perasaan itu memunculkan tak satupun gagasan yang mutlak tentang Tuhan, dan memunculkan tak satu pun teologi? Dalam pandangan saya, inilah fungsi terpenting seni dan ilmu, yaitu, untuk membangkitkan perasaan ini dan memeliharanya agar tetap hidup pada orang-orang yang dapat menerimanya.
Dengan demikian, kini kita sampai kepada suatu konsepsi yang sangat berbeda dari biasanya tentang hubungan antara ilmu dan agama. Jika seseorang melihat masalah ini secara historis, ia akan cenderung untuk melihat ilmu dan agama sebagai dua hal yang saling berlawanan yang tak dapat didamaikan – dan ada alasan yang jelas untuk ini.

Manusia Religius
Selama periode awal evolusi spritual umat manusia, khayalan manusia telah menciptakan Tuhan-Tuhan dalam citra manusia sendiri, yang – dengan berlangsungnya kehendak mereka – ingin menentukan, atau paling tidak mempengaruhi sampai tingkat tertentu, dunia fenomenal. Manusia berusaha mengubah ketentuan Tuhan-Tuhan ini untuk kebaikan mereka sendiri dengan cara magis dan penyembahan. Gagasan Tuhan pada saat ini adalah penghalusan dari konsep lama tentang Tuhan-Tuhan. Sifat antropomorfisnya tampak, misalnya, pada kenyataan bahwa manusia memuja Wujud Ilahiah dalam sembahyang-sembahyangnya, dan memohon dipenuhinya keinginan-keinginan mereka.
Sudah pasti, tak seorang pun akan menolak gagasan adanya suatu Tuhan personal yang mahakuasa, adil, dan maha pemurah dapat menjadi pelipur lara, pemberi bantuan dan pembimbing manusia; juga, disebabkan sederhananya gagasan itu, ia dapat dipahami oleh orang yang pikirannya paling lemah sekalipun. Tapi, di pihak lain, ada kelemahan yang amat penting dalam gagasan antropomorfis ini sendiri, yang terasa amat menyakitkan sejak permulaan sejarah. Yaitu bahwa jika Wujud ini mahakuasa, maka setiap peristiwa, termasuk setiap perbuatan manusia, setiap pikiran manusia, dan setiap perasaan dan aspirasi manusia adalah juga karya-Nya; bagaimana mungkin kita berpendapat bahwa manusia bertanggung jawab atas semua perbuatannya dan pemikirannya di depan Wujud mahakuasa seperti itu? Dalam memberikan hukuman dan ganjaran, Ia akan melewati penilaian terhadap Diri-Nya sendiri. Bagamana ini dapat dikombinasikan dengan kebaikan dan kemurahan yang menjadi sifat-Nya? Sumber utama dari pertentangan masa ini antara ilmu dan agama terletak pada konsep Tuhan yang personal ini.
Orang yang yakin sepenuhnya pada berlakunya hukum sebab akibat secara unuversal, tak akan bisa menganut suatu gagasan tentang satu wujud yang ikut campur dalam terjadinya peristiwa-peristiwa tentunya, dengan syarat ia memperlakukan hipotesis sebab-akibat itu secara serius. Ia tidak butuh lagi agama-takut, begitu juga agama-moral. Suatu Tuhan yang memberi ganjaran dan menghukum, tidak dapat lagi dipahaminya, karena alasan sederhana bahwa segala perbuatan manusia sudah ditentukan harus dilakukan, sehingga di mata Tuhan ia tak dapat bertanggung jawab – persis sama sebagaimana halnya suatu benda mati tak bertanggung jawab atas gerakan-gerakan yang dijalaninya. Demikianlah, maka ilmu telah dituduh menghancurkan moralitas, tapi tuduhan itu tidaklah adil. Perilaku etis manusia harus didasarkan secara efektif pada simpati, pendidikan, hubungan sosial, dan kebutuhan-kebutuhan; tak diperlukan dasar agama. Manusia pasti akan menjadi miskin kalau ia harus dikekang oleh perasaan takut akan hukuman dan harapan akan ganjaran setelah mati.
Maka, mudah Kita pahami mengapa gereja selalu memerangi ilmu dan mendukung para pendukungnya, di pihak lain perasaan religius kosmik merupakan motif paling kuat dan mulia bagi penelitian keilmuan. Hanya mereka yang mengerti usaha yang luar biasa dan pengabdian yang telah mewujudkan semua karya pionir dalam ilmu teoritis, yang dapat menangkap kekuatan emosi yang karenanya karya-karya tersebut - yang begitu jauh dari kenyataan hidup sehari-hari dapat tercipta. Betapa dalamnya keyakinan tentang rasionalitas alam semesta, dan betapa kuatnya dorongan untuk memahami yang pasti dimiliki Kopler dan Newton sehingga mereka dapat bertahan dalam kerja sunyinya yan bertahun tahun untuk menguraukan prinsip-prinsip mekanik alam semesta. Mereka yang pengalamannya dalam penelitian keilmuan didapat dari terutama hasil-hasil praktisnya dengan mudah mengembangkan gagasan yang sama sekali salah tentang mentalitas manusia yang – dalam lingkungan alam skeptis – telah menunjukkan dalam sesamanya suatu semangat yang terserak keseluruh dunia dan sepanjang masa. Hanya sesoran yang mengabdikan hidupnya yang gambkang dengan apa yang telah mengilhami orang-orang itu dan yang memberi mereka kekuatan untuk tetap setia kepada tujuan-tujuan mereka, meski mengalami kegagalan-kagagalan yang tak terhitung adalah perasaan religius-kosmik yang memberi seseorang kekuatan semacam itu. Seorang dari zaman kita telah mengatakan bahwa yang materialistik ini hanyalah pekerja ilmu yang serius yang benar –behnar merupakan orang religius.